Yuli Isnadi (ilustrasi: red/PPI Tainan)

TRADISI INTELEKTUAL: BERPINDAH

Sejarah berkisah. Sebagian intelektual besar dunia adalah pejuang kemanusiaan yang hidup tidak seperti manusia yang diperjuangkannya. Mereka hidup bersama kegelisahan, ketakutan, kesedihan, dan keraguan.

Saya amat yakin, banyaklah kiranya diantara bung dan nona yang berpikir sudah sedang berlayar untuk menjadi sesosok intelektual seumpama Karl Marx, Karl Polanyi, Gramsci, hingga Soekarno, Hatta, dan Natsir. Maka baiklah ditelusuri bagaimana perjalanan dan situasi emosional mereka supaya saya, bung dan nona tak hidup dalam kepalsuan.

Intelektual adalah manusia yang dianugerahi bakat dan mencintai seni berpikir. Itu semua membuatnya bisa melihat dan merasakan beragam persoalan kehidupan. Mengapa struktur ekonomi dan politik demikian, bagaimana itu bekerja, siapa penindas dan siapa pula yang tertindas.

Gambaran dan getaran kepedihan para tertindas membuat mereka hidup dalam kegelisahan. Sebuah rasa yang mendorong mereka untuk menemukan kebenaran dan memulai perubahan. Ketika gerakan perubahan diikrar, maka saat itu pula seribu musuh terlahir.

Itulah alasannya, mayoritas mereka pastilah berpindah, entah terpaksa atau dipaksa. Sebagian demi mencari jalan keluar, sedangkan yang lain untuk berkelit dari ancaman. Mereka cuma punya satu pilihan: pindah. Tak ada yang lain.

Polanyi, pemikir kiri yang mengkritik kapitalisme dari sudut pandang distribusi barang, berpindah dari Hungaria, Austria, Inggris dan Amerika karena alasan pendidikan hingga keterdesakkan kebutuhan hidup. Tan Malaka juga tak jauh beda. Mulai Belanda, Moscow, dan berkeliling negara-negara Asia Tenggara demi berkelit dari sergapan musuh dan merangkai sekuntum pemikiran.

Ketika meninggalkan tanah kelahiran, mestinya perasaan mereka remuk. Jenis masyarakat pada masa itu adalah paguyuban di mana relasi seseorang dengan komunitasnya, terutama keluarga inti (ayah, ibu, anak, dan istri), sangat kuat. Tak ada internet dan media sosial, komunikasi tatap muka membangun hubungan emosional yang berlipat lebih erat dibanding sekarang.

Maka berpindah adalah berarti tercerabut dari lingkungan yang membesarkannya tanpa punya harapan untuk bisa bertemu atau bahkan berkomunikasi. Kerelaan untuk berpisah selamanya adalah lebih logis, mengingat tak satupun yang bisa memastikan mereka bisa kembali ke komunitasnya. Ketika pergi, maka itulah saat terakhir melihat wajah dan mendengar suara sanak keluarga. Sayangnya, raut wajah dan suara yang terekam mustilah beraroma sendu.

Itulah konsekuensi dari berpindah. Tan Malaka bahkan telah membunuh romantisme komunalnya, “Bukankah seorang pelarian politik itu harus ringan bebannya? … Hatinya terutama tak boleh diikat oleh anak, istri, keluarga dan handai taulan” (Madilog, 1957: 6).

Berpindah juga menyematkan sebongkah takut dan ragu. Seseorang yang telah lama hidup di masyarakat paguyuban, kebenaran dan cara hidup adalah bersifat kolektif. Tidak dibutuhkan eksistensi diri, karena yang ada adalah kelompok, suku, ataukah keluarga. Semua sudah diatur oleh nilai-nilai komunitas. Tinggal mengiyakan dan mengikutinya saja. Sangat aman dan nyaman.

Akan tetapi, ketika seorang calon intelektual berpindah, maka eksistensi diri sebagai seorang individu dipaksa muncul. Benar ataukah salah, ditentukan oleh kekuatan pemikiran. Sistem nilai yang semula menyediakan keamanan dan kenyamanan, hilang musnah, berganti ketidakpastian. Bahkan tidak jarang gugatan atas kebenaran nilai komunalnya yang telah lama tertanam berkecamuk hebat di alam pikiran. Semua tampak meragukan, semua menjadi diragukan.

Keraguan mengundang rasa takut. Apakah keputusan-keputusannya dalam menghadapi banyak pilihan hidup di masyarakat yang asing adalah sebuah kebenaran. Apa buktinya jika itu benar.

Himpitan perasaan yang tidak karuan bukan hanya itu saja. Sejak lama uang telah menjadi musuh intelektual dalam mengembara. Materialis, tapi penting. Karena tak hanya menyangkut persoalan perut, tetapi juga kepala. Toh, salah satu tujuan mereka berpindah adalah untuk mengisi kepala, bukan?

Mereka berpindah tidak bersama dukungan finansial yang jelas seumpama beasiswa pemerintah ataukah lembaga sponsor, seperti yang banyak bertebaran sekarang ini. Uang pada saat itu tak pula bisa dipindah dari segala penjuru bumi ke sakunya melalui ATM. Tidak ada mekanisme chat keluarga dan handai taulan lalu beberapa menit kemudian menunggu euro atau dollar jatuh dari langit di depan mesin ATM berlogo Visa.

Semua serba tidak jelas. Seberapa banyak uang yang dipunya adalah seberapa banyak perbekalan yang mampu disiapkan dan di bawa, atau seberapa keras membanting tulang di negeri asing. Lalu mereka berpindah dengan perasaan ragu, adakah uang yang dibawa mencukupi dan adakah pekerjaan yang bisa menghidupinya di negeri asing nanti. Bila tidak, habislah sudah.

Namun sebagian intelektual besar dunia adalah orang-orang ‘terpilih’. Jalan yang sangat rumit yang meremuk perasaannya tidak membuat mereka takluk, menyerah pasrah. Rasa takut, gelisah, dan ragu memang sangat besar, tetapi rasa cinta terhadap kebenaran, keadilan, dan ilmu pengetahuan jauh lebih besar. Inilah yang membuat mereka tetap mampu bertahan dalam situasi demikian, terus berpikir, dan kemudian menuliskan gagasan-gagasan besarnya.

Jangan dikira magnum opus para intelektual dunia lahir dari fasilitas memanjakan seperti perpustakaan digital tanpa batas, kafe yang nyaman, sebuah kursi taman di pinggir danau yang indah lengkap dengan secangkir kopi hangat, disertai pula oleh seratus persen dukungan penguasa dan teman. Bukan. Bukan demikian situasi mereka sesungguhnya.

Soekarno menulis Indonesia Menggugat di penjara ¬†Banceuy, di atas kaleng pesing bekas ‘hajatnya’ saban pagi, setelah dibersihkan dan dilapisi kertas. Prison Notebooks ditulis Gramsci (yang sejak kecil sudah penyakitan) saat dipenjara dalam keadaan sakit. Ia menulis dengan penuh ancaman pemerintah, karena alasannya dipenjara oleh rezim fasis adalah “for twenty years we must stop his brain function” (Dworkin, 2015). Gramsci wafat tahun 1937, 2 tahun setelah dikeluarkan dari penjara atas alasan penyakit kronis. Polanyi menerbitkan The Great Transformation tahun 1944, namun sama sekali tanpa dukungan moral banyak pihak. Maklum, saat itu dunia sedang dilenakan diskursus Neoklasik vs. Keynesian (1930an-1970an). Pemikirannya baru diakui di tahun 1990an, jauh setelah ia wafat di tahun 1964.

Para intelektual lainnya kurang lebih sama. Mereka menulis gagasan dalam situasi terbatas, tertekan, dan terancam.

Jadi inilah sekeping kisah intelektual. Terpaksa atau dipaksa berpindah, dibekap rasa gelisah, takut, sedih dan ragu. Tetapi rasa cinta terhadap kebenaran, keadilan dan ilmu pengetahuan menguatkan kaki-kaki mungil mereka untuk terus mengembara menemukan kebenaran dan menuliskannya.

Sehingga bilamana ada diantara bung dan nona sedang mengalami kondisi serupa, maka mungkin ada secarik panggilan intelektual bagi bung dan nona. Pinta saya, jawablah panggilan itu.

 

Yuli Isnadi

Mahasiswa Jurusan Ekonomi Politik NCKU