Era digitalisasi: Sandang dalam dunia virtual

Ingatkah anda pada masa satu hingga dua dekade yang lalu? Apa yang menjadi tren pada saat itu? Pada masa itu, ponsel hanya kita gunakan untuk menelepon keluarga, bertukar pesan singkat dengan teman, atau bermain gim di waktu senggang. Pada masa itu, televisi, koran, atau bahkan radio masih menjadi media informasi yang dominan sebelum digantikan dengan siaran langsung di youtube, aplikasi-aplikasi e-news, dan kemudahan streaming video maupun musik. Pada masa itu, kita tidak mengenal praktek belanja online karena satu-satunya akses untuk berbelanja adalah dengan mendatangi physical store, betapapun jauhnya.

Tidak bisa dipungkiri, zaman berkembang dengan sangat pesat dalam satu hingga dua dekade terakhir ini. Perkembangan information technology (IT) menjadi pusat dari evolusi yang terjadi. Semua perkembangan yang terjadi ini mengantar peradaban manusia memasuki era digitalisasi. Sebelum saya jauh membahas tentang era digitalisasi, saya akan mencoba menarik ingatan anda pada beberapa tren yang terjadi di Indonesia 20 hingga 10 tahun yang lalu.

Ingat platform friendster? Bila anda termasuk pada “generasi 90-an”, anda pasti sangat familiar dengan platform media sosial ini. Sebelum facebook yang saat ini menjadi raksasa media sosial menjadi populer, friendster lebih dulu menjadi sebuah fenomena di Indonesia. Meskipun friendster telah lahir sejak tahun 2002 di Canada, puncak kejayaan platform ini di Indonesia berada di sekitar tahun 2005 hingga 2010. Sama seperti facebook, pengguna bisa berbagi identitas diri, saling mengirim pesan, dan menulis apapun yang diinginkan pada halaman profilnya.

Bisa dibilang friendster (bersama platform – platform lain seperti wikipedia, podcast, dan blogger) menjadi sebuah gong tanda bergantinya era web 1.0, menuju apa yang kita kenal sekarang dengan era web 2.0. Untuk penjelasan singkat, era web 1.0 dikenal dengan “read only web”, dimana pengguna internet hanya dapat mengakses dan membaca konten yang telah ditulis oleh pemilik website. Sementara era web 2.0 dikenal dengan “read and write web”, dimana pengguna internet juga bertindak sebagai content creator yang bisa menulis apapun yang diinginkan, termasuk memberikan komentar, mengirim pesan pada pengguna lain, merubah isi dari halaman web (webpage) secara instan, dan sebagainya. Internet tidak lagi merupakan media informasi satu arah, tapi sudah berevolusi menjadi media informasi dua arah, atau bahkan dengan jumlah arah yang tak terhingga.

Yang perlu digarisbawahi dari zaman “main friendster” ini adalah kita sebagai pengguna internet sedang diajarkan mengenai euforia dalam berbagai informasi diri di dunia maya, betapa kita merasa senang mengetahui bahwa semua orang bisa mengerti tentang kepribadian kita, dan bagaimana kita menganggap dunia maya adalah dunia baru dimana kita bisa bebas berekspresi dengan sangat mudah.

Dengan meledaknya tren dari friendster, beberapa platform internet lahir dengan membawa konsep berbagi yang telah diperkenalkan. Salah satunya adalah facebook yang saat ini masih bertahan dan menjadi raja dalam platform media sosial. Perkembangan dari facebook sendiri sangat menarik untuk diperhatikan, bagaimana platform ini bisa bertahan dan memimpin meskipun banyak platform sosial media lain yang datang dan pergi dalam kurun waktu satu dekade ini.

Facebook meneruskan apa yang sudah diperkenalkan oleh friendster mengenai kepuasan dalam berbagi informasi di dunia maya. Lebih jauh lagi, facebook dan banyak platform media sosial lain saat ini menjadi media pengguna untuk berbagi informasi yang bersifat lebih privat seperti berbagi lokasi tempat pengguna berada, kesukaan dan ketidaksukaan akan suatu topik, usia, hubungan dengan pengguna lain (istri / suami, teman, saudara, anak, orang tua, bahkan pacar?), dan lain – lain. Bagi banyak orang berbagi hal – hal semacam ini merupakan hal yang wajar dan pantas dilakukan karena banyak orang juga melakukannya. Yang mau saya tanyakan sekarang adalah: layakkah kita merasa aman dalam berbagi informasi pribadi di dalam dunia maya, termasuk media sosial? Sebagian dari anda mungkin berpendapat bahwa kekhawatiran saya terlalu berlebihan karena sebagian besar dari kita hanyalah netizen biasa yang tidak memiliki keistimewaan layaknya jutawan, artis, presiden, dan lain – lain. Bila anda termasuk orang yang memiliki pendapat seperti itu, maka saya ajukan pertanyaan selanjutnya: benarkah anda seorang “netizen biasa”?

Pernahkah anda mengenal istilah big data analysis dalam information technology? Secara singkat, big data dapat didefinisikan sebagai sekumpulan data dalam jumlah sangat besar yang dikumpulkan dan dianalisa untuk mengetahui pola dan perilaku dari pengguna. Semakin tinggi tingkat aktivitas anda dalam dunia maya (termasuk media sosial), semakin tinggi pula informasi yang bisa dikumpulkan mengenai diri anda. Jangankan informasi – informasi yang anda tuliskan secara jelas dalam halaman profil di media sosial anda, perilaku anda bisa dipelajari oleh pelaku dunia internet melalui click-ing behaviour anda, keyword yang sering anda masukkan dalam kolom pencarian google, atau bahkan lokasi yang biasa anda datangi ketika ponsel pintar anda tehubung dengan GPS. Platform – platform raksasa di internet dengan jumlah pengguna besar seperti google, facebook, twitter, amazon tidak lagi menjadikan anda sebagai konsumen utama mereka, tetapi andalah produk utama bagi mereka.

Pola aktivitas anda selama berada di dalam platform tersebut dapat mereka kumpulkan dan pelajari, yang kemudian dapat mereka jual ke perusahaan lain dengan nominal harga yang tinggi. Mengapa perusahaan lain mau membayar mahal untuk sekedar informasi seputar apa yang biasa kita lakukan di internet? Beberapa survey dan penelitian mengatakan bahwa alokasi dana sebuah perusahaan untuk aktivitas pemasaran berkisar antara 5 hingga 20 persen dari total pendapatan perusahaan. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil apabila anda membicarakan perusahaan yang sudah stabil dengan pendapatan per bulan diatas 100 miliar rupiah. Perusahaan – perusahaan besar rela mengalokasikan sejumlah besar uang tersebut agar mereka dapat memasarkan produk mereka secara tepat sasaran, dan semua informasi yang dibutuhkan untuk mencari konsumen yang tepat tersebut sudah tersedia dalam big data yang dikumpulkan dan dianalisa oleh google, facebook, amazon, dan lain sebagainya.

Perusahaan penyedia peralatan golf misalnya, dapat memasarkan produk mereka pada orang yang tepat, dilihat dari aktivitas check-in seseorang di instagram, atau pemberian like pada merk atau event golf di facebook. Perusahaan kecantikan dapat mengiklankan produknya berdasarkan status pertemenan kliennya dan foto – foto yang di-tag oleh kliennya. Satu anekdot bahkan mengatakan “facebook knows you better than your therapist”. Lebih mencengangkan lagi, dilaporkan pada Januari 2017, akun facebook menjadi bahan pertimbangan petugas imigrasi Amerika serikat untuk menentukan legalitas seorang imigran yang akan memasuki wilayah Amerika serikat. Semua fenomena tersebut menjelaskan bahwa betapa anda dapat dipelajari dengan mudah melalui aktivitas anda di internet dan terutama media sosial.

Belum sempat kita merenungi bahaya dari aktivitas kita di internet web 2.0, beberapa kalangan sudah mengklaim bahwa kita sudah sangat dekat dengan web 3.0. Era ini ditandai dengan eksistensi dari internet of things, dimana semua aspek kehidupan kita sudah terintegrasi oleh internet. Jam tangan, kacamata, sepatu, kartu identitas, kartu kredit, termasuk kecepatan internet yang ada dalam ponsel pintar anda saat ini mendukung perekaman semua aktivitas yang kita lakukan secara real time. Perusahaan dapat dengan mudah mengetahui posisi kita berada saat ini, dan menggunakannya untuk membantu akurasi pemasaran mereka.

Namun dengan data yang mereka miliki, apa yang bisa mereka lakukan sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Tidakkah anda merasa seperti diawasi ketika seluruh aktivitas yang anda lakukan dapat diketahui oleh dunia luas? Tidakkah anda merasa waspada ketika anda masuk ke situs belanja online dan mereka bisa menawarkan barang – barang yang anda ingin beli lengkap dengan harga yang sesuai dengan harga preferensi kita, bahkan sebelum anda melakukan atau meng-klik tombol apapun? Tidakkah anda merasa seperti diikuti ketika ada iklan masuk melalui ponsel anda hanya karena anda sedang berada pada lokasi tertentu? Tidakkah lingkungkan kehidupan anda merasa terganggu ketika anda mendapat email periklanan hanya karena anda memiliki status pertemanan di media sosial dengan seseorang yang membeli produk tersebut pada hari sebelumnya? Dengan segala kemudahan mempelajari kehidupan anda melalui data, masihkah anda merasa aman untuk posting kehidupan pribadi anda di internet?

Sebagai penutup, melalui tulisan ini saya tidak bermaksud mengubah anda menjadi seseorang yang penuh rasa curiga dengan dunia maya. Bahkan, saya sendiri adalah pengguna dari berbagai media sosial seperti instagram, facebook, dan twitter, walaupun tidak banyak menulis secara aktif. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah pengenalan konsep big data yang sangat erat pada aktivitas dan dunia kita saat ini. Antisipasi yang lebih tepat dalam isu ini menurut saya adalah bukan dengan menghindari internet dan segala perkembangan teknologi, melainkan lebih kepada beradaptasi pada penggunaan media sosial dan internet secara umum. Semoga pembaca sekalian lebih bijak dalam berbagi di dunia maya.

Rizki Revianto Putera

Department of Industrial & Information Management

National Cheng Kung University