Tidak Hanya Ilmu, Tabungan Pun Terpenuhi Dengan Studi di Taiwan

Taiwan! Hal pertama yang ditangkap ketika mendengar negara tersebut adalah Buruh Migran Indonesia (BMI). Tentu wajar karena BMI Taiwan merupakan penyumbang kenaikan devisa Indonesia terbesar setelah BMI Timur Tengah [1] dan penyumbang devisa ketiga setelah BMI Timur Tengah dan Hong Kong. Namun tahukah anda bahwa terdapat 4.394 pelajar Indonesia di Taiwan yang terdiri dari pelajar Sarjana, Pasca Sarjana, siswa pertukaran pelajar maupun pelajar khusus Bahasa Mandarin? Angka yang cukup besar bukan? Dibuktikan dengan jumlah pelajar Indonesia yang menduduki peringkat ke 3 terbanyak setelah Jepang dan Malaysia [3], tentu banyak yang bertanya-tanya tentang apa yang menjadi daya tarik studi lanjut di Taiwan.

1. Beasiswa

Sumber beasiswa dengan peluang terbesar untuk mendapatkannya adalah dari universitas. Semua universitas di Taiwan memiliki skema beasiswa untuk pelajar asing termasuk pelajar Indonesia. Adapun dana yang ditanggung oleh universitas meliputi dana hidup bulanan (monthly living allowance/ stipend) dan tuition fee (dana SPP). Besaran dari beasiswa ini bervariasi untuk setiap kota dimana semakin ke selatan, besaran beasiswa tersebut akan semakin kecil karena biaya hidup di Taiwan bagian selatan relatif lebih murah bila dibandingkan dengan Taiwan bagian utara. Besar biaya hidup bulanan berada pada range 5000-7000 NTD untuk Master dan 9,000-10,000 NTD untuk Doctor Sumber beasiswa kedua adalah beasiswa dari Kementerian Taiwan yaitu dari  Ministry Of Science and Technology (MOST) dan Ministry of Education (MOE) [4]. Dana yang ditanggung adalah dana hidup bulanan yang besarnya sekitar 20,000-30,000 NTD dan Tuition Fee untuk program pasca sarjana. Untuk degree study, beasiswa ICDF International Cooperation and Development Fund [5] menanggung beasiswa penuh untuk dana hidup bulanan, tuition fee, asuransi, uang buku hingga tiket pulang pergi. Terdapat juga beasiswa untuk belajar Bahasa Mandarin yang ditawarkan MOE dengan durasi 6-12 bulan. Menarik bukan?

2. Industry-based Research

Produk suatu industri sangat erat hubungannya dengan penelitian yang dilakukan oleh laboratorium di universitas terkait. Mayoritas Professor di universitas Taiwan, tidak hanya aktif menghasilkan publikasi murni riset, namun juga memiliki banyak grant research dari kerjasama dengan industri di Taiwan. Hal ini tentunya merupakan kesempatan berharga untuk para pelajar karena ilmu yang diserap dapat langsung diaplikasikan di produk industri. Tidak hanya soal ilmu yang textbook, suasana belajar di lab akan sangat challenging. Mengapa? Pertama, adanya Laboratory meeting mingguan yang membahas project yang sedang dikerjakan ataupun mempresentasikan jurnal terbaru yang sesuai dengan isu terkini di Taiwan. Kita dilatih untuk selalu tanggap dengan kebutuhan terkini dan terus inovatif dalam riset. Kedua, suasana laboratorium akan terasa semi-kantor, karena masing-masing anggota lab memiliki proyek yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu bersikap profesional dan memanajemen waktu dengan baik. Ketiga, sering diadakan meeting dengan partner dari industri, expert maupun dosen tamu rekanan Professor. akibatnya , kita terbiasa mengatur etika dan cara berkomunikasi ketika berada dalam gala dinner formal maupun dalam seminar yang diadakan.

3. Laboratory Allowance

Yang tak kalah menarik, hampir semua pelajar pascasarjana di universitas Taiwan akan mendapat laboratory allowance yang besarnya sesuai dengan beban kerja yang ditangani. Terkait dengan bahasan di point 2, setiap lab member akan diperlakukan sebagai adjunct asisstant yang membantu Professor dalam menyelesaikan proyek. Di beberapa laboratory, untuk pelajar asing, kita diharuskan mengurus work permit dimana pekerjaan Research Asisstant (RA) ini merupakan pekerjaan part time kita. Sehingga nantinya kita akan menandatangani kontrak yang berisi pengajuan kesanggupan kita, dan kesediaan pembimbing kita untuk mendanai kerja paruh waktu ini. Untuk bidang non-teknik, allowance juga diberikan bila kita mendedikasikan diri sebagai Teaching Assistant dalam mata kuliah tertentu. Kontrak sebagai TA biasanya per satu semester. Terdapat skema lowongan yang akan diumumkan melalui email oleh departemen, kemudian kita akan diseleksi oleh departemen tersebut.

4. Kerja Part-time

Diluar pemasukan dari dunia akademik, bila kita pintar mengatur waktu, banyak sekali pekerjaan paruh waktu yang dapat mengisi pundi-pundi kita. Apalagi bila kemampuan bahasa mandarin di atas rata-rata. Gaji yang ditawarkan tentunya sangat menggiurkan. Kita dapat bekerja sebagai pelayan restoran, toko teh, baby sitter, penjaga losmen maupun penjaga kios kartu sim. Bila kita memiliki kemampuan memasak, kita juga dapat mengolah panganan khas Indonesia dan menitipkannya di toko-toko Indonesia atau menjualnya langsung di taman kota. Setelah empat point pembahasan tersebut, sebenarnya bukan alasan materialistis yang ingin penulis tekankan dalam tulisan ini. Semangat untuk gigih berusaha dalam melanjutkan studi lah yang ingin penulis sampaikan. Untuk melanjutkan studi di Taiwan, uang bukan alasan untuk menyerah. Dimana ada kemauan, tentu kita akan temui jalan menggapainya. Dikutip dari the good country index, Indonesia menduduki peringkat 122 dari 125 negara untuk kategori perkembangan Sains dan Teknologi. Apakah kita mau berdiam diri mendengar hal ini? Tidakkah kita juga ingin menggaungkan kehebatan Indonesia di mata dunia? Semoga kita terus bersemangat untuk terus belajar. Belajar dari etos kerja masyarakat terpelajar Taiwan untuk mendapatkan pengakuan dari prestasi bukan karena pemberian. Mari belajar dan menjadi dewasa . Menjadi dewasa tanpa menuntut hak sebelum melaksanakan kewajiban. Kalau bukan kita, siapa lagi?

 

Sumber:

1. http://economy.okezone.com/read/2016/01/12/320/1286255/tki-sumbang-devisa-negara-
rp144-95-triliun-di-2015

2. http://www.majalah-holiday.com/2014/05/tki-penyumbang-devisa-negara-terbesar.html

3. http://www.roc-taiwan.org/id_en/post/50.html

4. http://www.studiditaiwan.org/

5. http://www.icdf.org.tw/mp.asp?mp=2

 

Penulis: Tim Humas PPI Tainan